Selasa, 14 Maret 2017

Letnan Komarudin, Patriot Kebal Peluru yang Sempat Salah Perhitungan dalam Serangan 1 Maret

Tags

Sosok pejuang yang mulai dilupakan ini memiliki kisah yang seru untuk diketahui

Indonesia memiliki banyak sekali nama pejuang kemerdekaan yang masing-masing memiliki cerita sendiri. Sebelumnya ada beberapa kisah heroik para pahlawan kemerdekaan yang sempat menjadi topik panas untuk didiskusikan, kali ini ada sebuah cerita tak terduga dan terkesan sangat lucu berasal dari salah satu prajurit kenamaan Yogyakarta, Letnan Komarudin.


Tidak banyak sepertinya yang pernah mendengar nama patriot yang satu ini karena mayoritas waktunya beliau habiskan di kota asalnya Yogyakarta. Letnan Komarudin ini juga diketahui memiliki cerita hidup yang penuh kontroversi sejak awal karirnya menjadi bagian militer Indonesia.

Letnan Komarudin sempat salah menghitung tanggal

Pada tahun 1949 Indonesia pernah melakukan serangan rahasia yang diberi nama serangan umum 1 Maret untuk melawan Belanda. Misi yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto itu sudah dipersiapkan dengan hati-hati dan dijadwalkan akan dimulai tepat 1 Maret 1949 pukul 06.00. Serangan ini akan ditandai dengan berahirnya sirine jam malam sebelum tembakan mulai dilepaskan.
Ilustrasi serangan 1 Maret [image source]
Namun tiba-tiba pada 28 Februari kekuatan militer Indonesia sudah menggencarkan tembakan. Serangan untuk Belanda itu berasal dari arah selatan dan ternyata dipimpin oleh Letnan Komarudin. Kolonel Soeharto sontak kaget dengan hal itu karena dikhawatirkan misi 1 Maret akan diendus Belanda. Secepat mungkin dia mengirim utusan untuk menghentikan baku tembak dan mendapat penjelasan ternyata Letnan Komarudin salah melakukan perhitungan tanggal. Dan untung saja sekutu menganggapkan serangan itu adalah biasa dari pihak Komarudin saja.

Aksi sang letnan membuat Jenderal Soedirman tergelitik

Berita tentang ketidaktelitian mantan prajurit PETA itu seketika terdengar oleh Jenderal Soedirman. Suatu hari saat sang jenderal melakukan inspeksi pasukan, beliau menghampiri Komarudin dan menasihatinya. Waktu itu juga sosok bijaksana Soedirman langsung memeluk letnan sambil mengucapkan kalimat penyemangat ‘tidak semua kesalahan berakibat buruk’.
Jenderal Soedirman [image source]
Mendengar hal itu bibir Letnan Komarudin bergetar karena harus menahan tangisan harunya sambil dengan terbata-bata mengucapkan permintaan maaf karena telah salah menghitung hari untuk melakukan serangan. Dan dengan tenangnya Jenderal Soedirman mengucapkan “Tidak, jangan terulang lagi. Setiap prajurit sejati selalu memegang teguh sumpahnya!” Kemudian sang letnan berjanji langsung pada jenderal untuk tak melakukan kesalahan kedua kalinya.

Letnan Komarudin kebal terhadap peluru

Hal lain yang membuat nama Letnan Komarudin membahana adalah kisah kebal pelurunya. Bayangkan saja manusia mana yang sanggup berjalan dengan semangatnya melewati peluru-peluru yang sedang disasarkan untuk pasukannya dengan jumlah tak sedikit. Saat melakukan serangan 1 Maret di mana Belanda tak henti-hentinya melepaskan tembakan, Komarudin tetap berjalan menerobos tembakan itu tanpa terkena satupun peluru.

Pria yang juga sempat bergabung dengan Laskar Hizbullah ini juga sempat menjadi target pencarian Belanda karena pamornya yang tak bisa dikalahkan. Bahkan di akhir hidupnya saat sang letnan menderita sakit dan mengalami koma, seorang dokter di Yogyakarta yang menanganinya bercerita bahwa sulit sekali menyuntik Komarudin karena kulit tubuhnya sangat keras untuk ditusuk jarum suntik.

Sering mengajak pemberontak DI/TII ngopi bersama

Sosok Komarudin juga dikenal sebagai orang yang lucu, berani, dan juga sentimentil. Inilah yang kemudian membuatnya dikira sebagai bagian dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) setelah adanya penyerahan kedaulatan Indonesia. Namun salah satu cucu Komarudin bercerita bahwa tuduhan itu ada karena kakeknya sering terlihat berbicara akrab dengan si pemberontak.

Bayangkan saja pada tahun 1950 an Letnan Komarudin diperintahkan menghabisi DI/TII di Malangbong. Tapi alih-alih berperang, sang pemimpin pasukan malah lebih sering mengajak para pemberontak itu untuk ngopi bareng. Hal itu dia lakukan karena merasa sudah lelah berperang dengan kelompok tersebut, belum lagi ada beberapa anggota DI/TII yang merupakan kawan lamanya saat berada di Laskan Hizbullah.

Memilih menjadi preman setelah dipecat

Ketidakmampuan pasukannya menghabisi DI/TII membuat mereka semua ditarik kembali ke Yogyakarta dan terpaksa harus dipecat masal. Setelah tak lagi aktif menjadi tentara, prajurit lucu ini mengalihkan kegiatannya menjadi preman di kawasan Kotagede Yogyakarta. Yah namanya juga mantan tentara, pastinya preman yang satu ini sangat ditakuti dan disegani di sana pada tahun 1960 an.

Tapi pada 1969, sang preman tiba-tiba menghilang dan ditemukan kembali di wilayah Cempaka Putih, Jakarta. Di sini dia tinggal di sebuah rumah kecil di tengah rawa dan masih menjadi preman daerah Pasar Senen. Banyak yang berspekulasi bahwa keberadaannnya diketahui oleh Presiden Soeharto sehingga setiap bulannya Komarudin mendapat jatah bantuan beras dari negara. Tak lama kemudian Komarudin kembali ke Yogyakarta dan menghabiskan sisa hidupnya.
Sosok Letnan Komarudin sepertinya adalah seorang gerilyawan yang memiliki kisah-kisah tak terduga selama bertugas. Mulai dari kisah kocaknya saat salah menghitung tanggal, sifat kebal peluru, sampai keputusan nyelenehnya mengajak kelompok pemberontak untuk ngopi. Sebagai seorang yang pernah berjasa untuk Indonesia seharusnya beliau mendapatkan jaminan hari tua yang layak dan dihargai seperti tokoh prajurit lainnya. Yah semoga semakin banyak masyarakat Indonesia yang masih mengenal sosoknya yang unik ini. Domino QQ


EmoticonEmoticon