Rabu, 15 Maret 2017

Leonidas, Raja Sparta yang Mengorbankan Nyawa dalam Perang Paling Diingat Sepanjang Masa

Tags

Ia adalah pemimpin sejati, seorang raja yang dengan inisiatif sendiri mau terjun ke lapangan dan memasang badan di garis terdepan.

Leonidas yang lahir pada tahun 530 hingga 480 sebelum masehi (SM) adalah seorang keturunan Sparta. Pada tahun 490 SM, ia didaulat sebagai pemimpin tertinggi kaumnya. Leonidas dipercaya sebagai keturunan dari dewa Heracles lantaran kekuatan dan keberaniannya yang beringas.


Dirinya tewas pada pertempuran Thermopylae melawat prajurit Persia pada tahun 480 SM. Kematiannya dipandang sebagai salah satu pengorbanan paling heroik dalam sejarah. Dalam sebuah pertempuran kolosal di mana ia dan sekitar 300 prajuritnya gugur secara terhormat.

Jauh sebelum menjadi raja, ia dididik sama dengan warga Sparta lainnya

Leonidas merupakan putra dari raja Sparta sebelumnya, Raja Anaxandrides. Ia menjadi raja ketika kakak tirinya, Cleomenes I, meninggal dalam suatu keadaan yang misterius dan mengenaskan tepat pada tahun yang sama ketika Leonidas diangkat menjadi raja.
Leonidas Sparta

Sebagai seorang Raja, Leonidas tentu sudah kenyang ilmu politik dan kemiliteran. Sama seperti pria lainnya yang ada di kota Sparta, Leonidas telah ditempa secara fisik maupun mental sejak masih belia sebagai persiapan untuk menjadi prajurit Hoplite (sebutan bagi prajurit Sparta).
Prajurit Hoplite dipersenjatai dengan tameng bundar, tombak dan pedang pendek. Dalam bertempur, mereka biasanya menggunakan formasi Phalanx, di mana setiap baris prajurit berdiri berdekatan sehingga tameng mereka saling menutupi.
Ketika terjadi serangan, tembok tameng ini memberikan perlindungan yang sangat signifikan terhadap prajurit yang ada di belakang mereka. Ironisnya, strategi ini pula yang disinyalir menjadi titik lemah dan penyebab kekalahan utama mereka dari para prajurit Persia dalam perang Thermopylae.

Invasi prajurit Persia di bawah arahan Raja Xerxex

Yunani Kuno terdiri dari beberapa ratus kota bagian. Athena dan Sparta menjadi dua kota paling besar dan paling kuat. Meski masing-masing daerah saling berselisih dan berkompetisi demi wilayah kekuasaan dan sumber daya yang sedikit, namun ketika bangsa lain dari luar datang menyerang, mereka bersatu padu untuk sigap dan saling bantu sesama.
Leonidas Sparta

Awalnya usaha pertama invasi kerajaan Persia datang pada tahun 490 SM di bawah arahan Raja Darius I, namun dalam pertempuran yang bernama Battle of Marathon tersebut, bersatunya kekuatan rakyat Yunani di bawah naungan yang sama, mampu memukul mundur prajurit Persia.
Barulah sepuluh tahun kemudian, pada masa perang Persia kedua, salah satu putra Darius, Xerxex I, kembali menginvasi Yunani Kuno. Dan serangan mereka kali ini berhasil menorehkan luka yang dalam bagi rakyat Sparta khususnya.

Pertempuran Thermopylae yang mashyur

Di bawah kepemimpinan Xerxex I, prajurit Persia bergerak ke arah Selatan melewati Yunani di pesisir timur. Untuk mencapai tujuan mereka di Attica, wilayah yang dikendalikan oleh kota bagian Athena, prajurit ini harus melewati jalur terusan Thermopylae.
Leonidas Sparta

Pada penghujung musim panas tahun 480 SM, Leonidas mengarak 6.000 hingga 7.000 prajurit Yunani dari berbagai kota bagian, termasuk di dalamnya 300 prajurit Sparta, sebagai upaya untuk menghalau invasi prajurit Persia.
Leonidas menempatkan pasukannya di Thermopylae, dengan harapan agar jalurnya yang sempit akan menggiring para Persia menuju serangan yang telah ia persiapkan. Selama dua hari berturut-turut, bangsa Yunani bertahan dari serangan bertubi-tubi para prajurit Persia yang jumlahnya jauh lebih banyak dari mereka.
Awalnya rencana brilian Leonidas berjalan lancar. Namun, ia tak tahu bahwa ada jalur lain yang menuju ke atas gunung, tempat para prajuritnya berada. Lewat rute ini, pasukan Persia dapat menghindari jalur mematikan yang telah merenggut banyak nyawa pasukannya.
Biang keladinya adalah seorang warga Yunani itu sendiri yang berkhianat dengan membocorkan rute rahasia tersebut kepada raja Xerxex. Tak butuh lama bagi pasukan Persia untuk mengepung prajurit Yunani tersebut. Sebagian besar dari prajurit pimpinan Leonidas melarikan diri alih-alih berhadapan langsung dengan pasukan Persia.
Prajurit Thespians, Thebans, dan 300 pasukan Spartan yang gagah berani menahan gempuran tentara Persia, harus tewas dalam salah satu pertempuran paling melegenda tersebut. Usai pertempuran, mayat Leonidas dicari, untuk kemudian dipenggal setelah itu.

Peristiwa pasca pertempuran Thermopylae

Usaha Leonidas bersama prajurit Spartanya belum cukup untuk meredam pergerakan bangsa Persia yang bergerilya menuju pesisir Yunani. Namun, beberapa bulan setelah itu, prajurit laut Athena berhasil memukul mundur pasukan Persia dalam sebuah pertempuran bernama Salamis.
Leonidas Sparta

Merasa terkepung dan tersudut, raja Xerxex mundur bersama sebagian besar pasukannya ke benua Asia. Banyak dari mereka yang mati akibat luka parah dan kelaparan. Baru setahun kemudian, mereka kembali menyerang Yunani. Namun, dalam pertempuran yang bernama pertempuran Plataia itu, pasukan Persia sudah kehilangan tajinya dan kalah secara mengenaskan.
Meski pada akhirnya tewas dan kalah dalam perang, kredit tertinggi pantas diberikan kepada Leonidas dan para prajurit tangguhnya. Ya, mereka dengan gagah berani mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi kedaulatan bangsa Yunani. Kisah Leonidas sendiri pernah difilmkan dan cukup sukses. Domino QQ


EmoticonEmoticon