Selasa, 16 Mei 2017

Shadow Brokers, Para Hacker Dibalik Ransomware WannaCry, Si Manusia Berhati Setan Sekaligus Malaikat

Tags

Masih Bimbang, apakah sebenarnya mereka ini orang jahat atau baik

Beberapa waktu yang lalu dunia dihebohkan oleh sebuah ransomware bernama WannaCry yang menyebar secara cepat di berbagai belahan negeri. Ada ratusan bahkan ribuan komputer yang sudah terjangkit, akibatnya mereka harus membayar jutaan rupiah pada pihak pembuat dan penyebar ransomware tersebut.


Bicara masalah ransomware Wannacry, semua tidak terlepas dari pihak pengembangnya yang menamakan dirinya Shadow Broker. Mungkin sepertinya terlihat mereka adalah orang jahat dan hanya peduli dengan uang, tapi siapa sangka ada motif lain dari penyebaran virus ini. Kamu pasti bakal kaget kalau mengetahui kenyataannya. Penasaran? Simak ulasan berikut.

Telah berkali-kali melakukan peretasan pada NSA

Kurang lebih sejak 8 bulan, kelompok hacker Shadow Broker sudah berkali-kali melakukan peretasan pada NSA alias badan keamanan negara milik Amerika. Ada paling tidak 1 gigabytes data yang sudah di dapatkan dari peretasan organisasi keamanan milik Amerika tersebut. Dan kebanyakan dalam peretasan itu, Shadow Broker lebih mencuri senjata-senjata cyber dan data rahasia  milik Amerika tersebut.

Organisasi ini telah melakukan beberapa kali pelelangan senjata cyber dan password data terenkripsi milik NSA. Akibat ulah Shadow Broker ini lembaga NSA berkali-kali harus melakukan pembenahan pada keamanan cyber mereka pasalnya meskipun sudah diperbaiki, kelompok tersebut selalu saja menemukan celah untuk melakukan peretasan.

Terinspirasi oleh karakter di game

Siapa sangka kalau nama Shadow Broker sendiri terinspirasi pada sebuah tokoh dalam video game. Tepatnya pada game Mass Effect, organisasi para hacker ini memilih nama tokoh tersebut karena sangat sesuai dengan tujuan mereka. Ya, dalam game  maupun di dunia nyata shadow braker akan menjual informasi penting kepada pihak yang membutuhkan dengan tawaran yang paling tinggi.

Oleh sebab itu setelah melakukan peretasan, biasanya mereka melakukan sebuah pelelangan dengan harga tertinggi pada data yang berhasil mereka curi. Sasaran paling diretas oleh organisasi ini adalah NSA terutama alat mata cyber dan senjata cyber. Padahal NSA sendiri berisi pada hacker kelas satu di Amerika, namun masih saja bisa diretas oleh kelompok ini, bukti kalau Shadow Broker bukan peretas biasa.

Eternal Blue, senjata Amerika yang dicuri

Memang berkat perangkat cyber eternal blue yang mereka curi dari NSA, kini dunia gempar dengan sebuah ransomware bernama WannaCry. Berbeda dengan ransomware biasa yang akan aktif  jika membuka link atau tab baru, Wannacry bakal otomatis menginfeksi perangkat komputer seseorang. Akibatnya, data dari komputer tersebut tidak akan dapat diakses kecuali jika membayar pada shadow broker sendiri. Uniknya ransomware ini bisa cepat menyebar karena secara otomatis akan menggandakan diri dan mencari celah pada komputer lainnya.

Yang menjadi sasaran dari komputer ini adalah mereka yang menggunakan perangkat windows, sampai saat ini sudah banyak yang menjadi korban dan kebanyakan terjadi di fasilitas umum seperti rumah sakit atau di lembaga pemerintahan. Awalnya Etenal Blue digunakan untuk meretas data milik para teroris atau beberapa negara saingan.

Balas dendam pada Suriah

Meskipun hal yang dilakukan shadow broker dengan menyebarkan ransomware ini memang sangat merugikan, namun siapa sangka ternyata ada tujuan lain dari mereka. Beberapa media besar menerangkan bahwa hal yang dilakukan oleh Shadow Broker ini bukan hanya tentang mendapatkan uang saja, tapi hal-hal yang lain.

Penyebaran WannaCry menggunakan senjata cyber Eternal Blue ternyata juga merupakan wujud protes penyerangan terhadap Suriah dengan dihujan rudal oleh Amerika. Shadow Broker berharap agar Amerika dapat merasakan betapa berbahaya senjata buatannya jika digunakan pada orang lain. Organisasi Hacker ini dipercaya bekerja pada Rusia, seperti yang telah di kemukakan oleh Edward Snowden, seorang peretas NSA pula yang hijrah, bahwa mereka 100% didukung oleh Kremlin.
Apakah pemerasan terhadap orang yang terkena Ransomware adalah salah satu rencana mereka, kita tidak tahu. Namun usaha mereka dalam menuntut keadilan bagi warga Suriah tidak berdosa yang menjadi korban rudal Amerika patut diacungi jempol. Ironis memang, entah harus mendukung atau malah menolak mereka.Domino QQ