Selasa, 18 April 2017

Kisah dr. Moewardi, Sang Pahlawan Nasional yang Jasadnya Tak Pernah Ditemukan

Tags

Meski hilang, jasa Dokter Moewardi tak terlupakan

Perjuangan mencapai serta mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia memang mengorbankan tidak sedikit harta dan nyawa para pahlawan. Sebagian dari para pahlawan gugur di medan perjuangan, ada juga yang selamat, namun juga banyak di antaranya yang menghilang. Tak tahu entah di mana, kalaupun meninggal pun tak pernah diketahui keberadaan jasadnya.


Salah satu pahlawan yang hilang dan nasibnya belum jelas hingga kini adalah Dokter Moewardi. Setelah perjuangan panjangnya mengawal kemerdekaan, di tahun 1948 laki-laki kelahiran Pati itu tak kembali setelah berpamit akan menjalankan operasi di Madiun. Kejadian itu tepat pada hari terjadinya peristiwa pemberontakan Komunis di Madiun. Hingga kini, tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dokter kebanggaan Indonesia itu.

Dokter Gembel, Sebutan Moewardi         

Lahir dari keluarga berada, Moewardi yang merupakan anak ke tujuh dari pasangan Sastrowardojo dan Roepeni, yang bekerja sebagai mantri guru. Meski begitu, pria kelahiran 30 Januari 1907 itu lebih gemar bersosialisasi dengan para petani atau gembel daripada bergaul dengan golongan terpandang dan kaya. Moewardi akan datang ke  rumah pengemis ataupun gembel yang membutuhkan, meskipun ia harus melakukan perjalanan yang jauh.

Pernah suatu hari dokter lulusan STOVIA tersebut mendatangi seorang gembel yang tinggal di kawasan berlumpur yang becek. Si gembel yang tak enak hati sebab kebaikan Moewardi pun tak mengizinkan pakaian dan sepatu Moewardi yang bersih akan kotor. Jadilah si gembel memaksa mengendong Moewardi di atas punggungnya hingga ke jalan besar. Itulah gambaran ketulusan rakyat kecil pada dokter berhati mulia itu.

Menjadi Pilar Terdepan Organisasi Kepemudaan Indonesia

Sejak menjadi pelajar di STOVIA, pemuda yang juga sempat mengenyam pendidikan di Netherland Indische Arts School ini aktif dalam pergerakan pemuda Jong Java dan aktif pada bidang kepanduannya. Seusai peleburan Jong Java dengan perkumpulan pemuda se-Indonesia, kepanduan Jong Java menjelma menjadi Pandu Kebangsaan.

Moewardi pun terpilih menjadi ketua umum sampai perkumpulan ini kembali berubah nama menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Perlu diketahui, KBI adalah cikal bakal dari Pramuka. Setelah perkumpulan ini dibubarkan Jepang, Moewardi membentuk Barisan pelopor dan dipercaya sebagai pemimpin Barisan Pelopor Kotapraja Jakarta.

Kiprahnya Mengawal Proklamasi Kemerdekaan

Moewardi menjadi salah satu putra negeri ini yang turut mengawal proklamasi. Kala itu, 17 Agustus 1945 dirinya didapuk sebagai penanggung jawab keamanan. Dengan situasi Jepang yang masih berada di tanah air, ia merasa ragu kalau-kalau Jepang mengetahui rencana ini sebelum proklamasi dibacakan. Moewardi pun sempat meminta agar Soekarno secepatnya membaca proklamasi, tidak menunggu Hatta yang saat itu belum hadir. Namun Presiden Soekarno menolak dan menunggu kedatangan Hatta, proses proklamasi pun berjalan dengan baik.

Sesaat setelah pasangan Soekarno-Hatta menjadi pemimpin tanah air, sang presiden pun meminta Moewardi untuk menjabat menteri pertahanan. Namun, Moewardi yang seorang dokter lebih memilih untuk menolak karena ingin melanjutkan profesi yang telah ditekuninya selama ini. Meski begitu, Moewardi tetap aktif dalam perkumpulan Barisan Pelopor. Dan saat markas Barisan Pelopor berganti nama menjadi Barisan Banteng Republik Indonesia, Moewardi pun menjadi pemimpin umum.

Menghilangnya Sang Dokter Pahlawan Indonesia

Dokter Moewardi dikenal sebagai pelopor perkumpulan-perkumpulan anti komunis dan di hari dirinya hilang, diduga diculik oleh pemberontak komunis yang terjadi pada hari itu di Madiun. Awalnya sang Dokter berpamitan pada istrinya untuk pergi ke Rumah Sakit Jebres untuk melakukan operasi yang sudah dijadwalkan. Setelah dari rumah, Moewardi tak langsung ke RS namun melipir sebentar di Markas Barisan Banteng.

Sebelumnya, anggota Barisan Benteng sudah khawatir sejak dua orang anggotanya diculik. Karenanya mereka melarang Moewardi untuk pergi ke RS saat kondisi genting. Mengingat operasi yang penting, Moewardi tak sanggup menundanya dan lantas nekat menuju rumah sakit dengan naik andong. Dan sejak itu dirinya tak ditemukan di manapun hingga kini. Pencarian terhadap Moewardi segera dilakukan namun tak mendapatkan hasil. Meski begitu, atas jasanya kepada rakyat serta bangsa dan Negara sang  dokter dianugerahi gelar pahlawan. Tak hanya itu, namanya diabadikan dalam nama sebuah rumah sakit di Solo juga nama beberapa jalan.
Kepedulian dan dedikasi seorang Moewardi sebagai dokter dan pengawal kemerdekaan tidak pernah dilupakan. Meski tak tahu bagaimana akhir hayatnya, semua orang tahu bagaimana kesungguhannya untuk memajukan Indonesia melalui apa yang dilakukan seumur hidupnya. Domino QQ


EmoticonEmoticon