Kamis, 01 Maret 2018

Misteri Franklin dan Kisah Kapal Tenggelam di Arktik

Tags


TEMPO.CO, Ontario - Kondisi kawasan perairan Arktik Kanada sudah bersahabat setelah musim dingin lewat. Memanfaatkan laut yang tenang itu, para peneliti arkeologi dan penyelam angkatan laut Kanada ke sana untuk menyelidiki reruntuhan kapal Inggris HMS Erebus. Bersama HMS Terror, Erebus lenyap secara misterius bersama 128 awaknya di perairan Arktik Kanada pada 1845. Situs Judi Online

Erebus teronggok di dasar laut yang dingin pada kedalaman 11 meter. Para penyelam mengakses jalur ke Erebus melalui lubang segitiga besar yang dibuat di lapisan es setebal dua meter. Penyelaman yang dilakukan para peneliti dari Parks Canada-lembaga pemerintah pelindung situs bersejarah-itu sangat berisiko.

Ryan Harris, arkeolog senior di Parks Canada, mengatakan tutupan es akan mengurangi gulungan ombak besar. "Tanpa ombak yang mengaduk lautan, material berbentuk partikel akan tetap berada di dasar laut sehingga kondisi air akan jernih. Ini seperti menyelam di dalam akuarium," kata Harris, seperti dikutip dari CBC News.

Lenyapnya Erebus dan HMS Terror menjadi teka-teki besar selama 170 tahun. Mereka berangkat dari GreenHithe di Kent, Inggris, dalam misi mencari Jalur Timur Laut yang menghubungkan Samudra Atlantik dan Samudra Pasifik. Misi itu dipimpin Sir John Franklin, perwira Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan petualang Arktik.


Erebus dan Terror berangkat pada 19 Mei 1845. Pada 26 Juli, kapten kapal penangkap paus asal Inggris menyatakan melihat dua kapal itu pesisir Pulau Baffin. Inilah laporan terakhir kali tentang Erebus dan Terror yang sampai di Eropa. Setelah itu, kabar tentang Franklin dan kapalnya tak terdengar lagi. Puluhan misi pencarian dilakukan selama bertahun-tahun dengan harapan bisa menemukan kembali Franklin dan kru kapalnya dalam keadaan hidup.

Kematian Franklin terkonfirmasi lewat dokumen yang ditemukan pada 1859. Fokus penyelidikan akhirnya berubah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Franklin dan dua kapalnya. Pada September 2014, kapal riset Parks Canada, Investigator, mengidentifikasi obyek berupa kapal di laut Arktik dengan bantuan sonar pemindai. Fisik Erebus, bekas kapal pengebom Inggris yang dimodifikasi menjadi kapal penjelajah es, terkonfirmasi setelah peneliti mengirim wahana pemantau tak berawak.

Cerita turun-temurun suku Inuit, warga asli di kawasan Arktik Kanada, membantu para peneliti menemukan lokasi tenggelamnya kapal Inggris itu. Komunitas Gjoa Haven adalah kelompok warga Inuit yang paling dekat dengan lokasi penemuan Erebus.

Menurut Louie Kamookak, ahli sejarah Inuit, cerita yang diwariskan secara lisan itu terbukti akurat. "Ini menunjukkan sejarah cerita lisan Inuit sangat kuat," kata Kamookak, yang menghabiskan 30 tahun mengumpulkan kisah dari para tetua Inuit tentang ekspedisi Franklin.


Menurut Kamookak, kisah tentang ekspedisi Franklin berkembang di wilayah timur laut Pulau King William. Cerita itu mengisahkan satu kapal yang rusak menabrak es, sementara yang lain terbawa arus jauh ke selatan. Dua kapal itu disebutkan masih mengapung selama dua kali musim dingin.

Para tetua Inuit menyebutkan kemungkinan masih ada manusia di atas kapal pada musim dingin pertama. Namun tak terlihat lagi tanda-tanda kehidupan saat musim dingin kedua. "Bagi Inuit, sejarah lisan adalah pengetahuan berharga. Ini tidak hanya membantu pencarian kapal Franklin, tetapi juga untuk isu lingkungan dan lainnya," kata Kamookak.

Doug Stenton, Direktur Kebudayaan Pemerintah Nunavut, mengatakan tim pencari tak akan bisa menemukan Erebus tanpa bantuan cerita kaum Inuit. "Pernyataan warga Inuit yang membagi pengetahuan mereka tentang reruntuhan kapal itu sangat jelas," katanya. BANDAR POKER ONLINE


BandarQ Domino 99 Domino QQ Poker Online Terbaik Dan Terpercaya