Sabtu, 17 Februari 2018

NASA Ungkap Misteri Planet Jupiter

Tags


TEMPO.CO, California - Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kembali mengungkap misteri Planet Jupiter. Jupiter adalah planet terbesar dalam tata surya. Selama berabad-abad, planet gas raksasa itu telah dipelajari oleh para ilmuwan. Meski begitu, misteri planet terbesar di tata surya kita ini seakan tak pernah ada habisnya. Agen Bandar Q


Pakar astronomi Italia, Galileo Galilei, bahkan telah membuat laporan observasi detail pertama tentang Jupiter dan satelit-satelitnya pada 1610. Hasil studi terbaru mengungkapkan sejumlah keunikan di planet yang tertutup awan tebal itu.

Menggunakan data dan citra yang dikirim wahana nirawak Juno, para ilmuwan menemukan ada sejumlah topan raksasa di dekat kutub-kutub Jupiter yang selama ini sulit sekali diamati. Dalam laporan studi yang dimuat di jurnal Science pada 25 Mei lalu, fenomena aurora yang terjadi di Jupiter sangat berbeda dengan cahaya yang muncul di kutub utara dan selatan bumi.


Topan dan badai di kawasan kutub Jupiter sangat besar dengan ukuran setara bumi. Topan tersebut sangat padat dan saling bersinggungan. Tapi para peneliti masih belum mengetahui bagaimana topan sebesar itu bisa terbentuk.

Data kiriman wahana milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang tiba di orbit Jupiter pada Agustus tahun lalu menunjukkan planet gas raksasa itu adalah dunia yang kompleks dan penuh gejolak. "Kami sadar akan ada hal baru yang diberikan Jupiter," ujar Scott Bolton, peneliti utama dalam misi Juno, seperti ditulis di laman NASA. "Ternyata banyak sekali hal yang terjadi dan tak kami duga sebelumnya."

Juno merupakan wahana pertama buatan manusia yang mampu memantau hingga kawasan kutub Jupiter. Diluncurkan pada 2011, wahana seharga US$ 1,1 miliar  atau sekitar Rp 14,6 triliun itu menempuh lebih dari 2,7 miliar kilometer untuk mengorbit Jupiter. Wahana bertenaga surya itu membawa delapan instrumen untuk mempelajari komposisi, struktur, dan medan magnet Jupiter hingga Februari tahun depan.

"Perjalanan yang panjang untuk mencapai Jupiter. Tapi data awal ini menunjukkan misi ini tak sia-sia," ujar Direktur Program Juno, Diane Brown.

Sekali dalam 53 hari mengorbit Jupiter, Juno mencapai posisi terdekatnya sekitar 5.000 kilometer di atas kutub planet gas tersebut. Data terakhir yang dia kirim kembali ke bumi sampai pada 19 Mei lalu.

Bolton dan koleganya menilai kutub Jupiter merupakan tempat yang aneh. "Ada ribuan topan berpilin di sekitar kutub," ujarnya. "Terlihat seperti kawah tumbukan meteor, tapi semua ada di atmosfer karena itu planet gas."

Para peneliti tak tahu apa pemicu topan kutub yang lebarnya bisa mencapai 1.400 kilometer itu. Belum diketahui juga apakah topan itu stabil atau mengalami perubahan drastis. "Ada kemungkinan topan-topan itu selalu ada di sana," kata Bolton.

Kondisi interior Jupiter ternyata sama anehnya. Selama ini para ilmuwan menduga Jupiter memiliki inti padat hingga 10 kali ukuran bumi atau tidak ada inti sama sekali. Tapi tak satu pun hipotesis itu yang cocok dengan data gravitasi dari Juno. Dugaan lain yang muncul adalah sebagian inti Jupiter larut sebagian dan terus bergerak.

Medan magnet Jupiter ternyata jauh lebih kuat dari dugaan para peneliti sebelumnya. Para peneliti memperkirakan medan magnet yang bergumpal-gumpal itu ada kemungkinan dipicu oleh gerakan besar di dekat permukaan planet dan inti yang besar.

Dalam laporan di jurnal Geophysical Research Letters, ukuran inti Jupiter diperkirakan mencapai 25 kali massa inti bumi. "Juno memberikan gambaran medan magnet yang tak pernah kita punya sebelumnya," kata Jack Connerney, ketua tim penyelidik medan magnet dari NASA.

Aurora yang muncul di kutub-kutub Jupiter juga sangat berbeda. Di bumi, aurora muncul akibat efek pancaran partikel dari matahari di magnetosfer lalu bergerak ke arah kutub.

Sebagian partikel ini dialihkan dan menabrak gas-gas di atmosfer serta menciptakan cahaya. Di Jupiter, aurora tampaknya muncul dari bagian dalam planet. Kondisi ini mengindikasikan adanya kejanggalan di medan magnet planet tersebut.

Menurut Bolton, data yang dikirim Juno menunjukkan pengetahuan manusia tentang planet gas selama ini masih sederhana. Bolton mengatakan Jupiter menunjukkan bahwa planet gas merupakan obyek yang sangat kompleks. "Mungkin mereka terbentuk dengan cara yang sama sekali berbeda dari yang kita pikirkan." Yang jelas, kata dia, NASA akan terus mengungkap misteri Planet Jupiter lainnya. Domino 99


BandarQ Domino 99 Domino QQ Poker Online Terbaik Dan Terpercaya