Sabtu, 14 Januari 2017

Gara-Gara Memindah Batu Nisan

Tags

Perkenalkan namaku Parjino seorang pedagang buah yang hidup di desa cukup terpencil. Cerita yang saya kasih judul gara-gara memindah batu nisan ini nyata saya alami kurang lebih dua tahun yang lalu. Sebelum menuturkan pengalaman saya dalam sebuah tulisan  ijinkan saya untuk meminta maaf karena tidak begitu piawai dalam menulis cerita.
Seperti bulan sebelumnya setiap hari minggu kliwon masyarakat di dusun saya mengadaka kerja bakti di pemakaman (kuburan) untuk membersihkan rumput yang tumbuh. Hari minggu kliwon sengaja dipilih agar ketika malam jumat kliwon keadaan pemakaman atau kuburan relatif bersih, maklum saja sebagian warga setempat masih banyak yang melakukan ziarah kubur menjelang jumat kliwon.

Sebagaimana kasus dan permasalahan kebanyakan pemakaman lambat laun akan semakin penuh karena semakin banyaknya jasat atau mayat yang dikuburkan di dalamnya. Hingga saat itu tahun 2014 namun bulan dan tanggalnya sedikit lupa yang jelas waktu itu hari minggu kliwon dimana hampir seluruh kepala keluarga serentak membersihkan makam ahli waris mereka saya disuruh oleh Mas Sumadi untuk memindah nisan yang dirasa sudah lama tak ada ahli warisnya alias tidak ada lagi keluarga yang datang berziarah.

Tujuan saya dan Mas Sumadi sebenarnya baik yakni mengatasi penuhnya kuburan agar jika sewaktu-waktu ada orang meninggal kita dapat lebih leluasa menggali kubur sebagai tempat persemayaman. Setelah berbincang dengan Mas Sumardi dan beberapa warga akhirnya kami memutuskan untuk memindahkan nisan yang sudah tak lagi terawat. Saya dan Mas Sumardi berdua mengangkat nisan untuk menyingkirkannya di pinggir parit yang tak jauh dari area pemakaman.
Sekitar 5 buah makam waktu itu kami pindahkan dengan hati-hati sehingga harus pulang belakangan ketika seluruh warga telah selesai membersihkan area makam.

“Wah ternyata berat juga ya Par”, kata Mas Sumardi sambil menahan nafas karena ngos-ngosan.
Sambil menyeka keringat di dahi sayapun mengiyakan perkataan Mas Sumardi, apalagi Batu Nisan terakhir ini terbuat dari batu kali dengan ukuran besar dan sangat berat. Singkat cerita kelima batu nisan telah selesai kami singkirkan ke pinggir parit, setelah mengemasi cangkul dan sapu saya dan Mas Sumadi pun bergegas pulang.

Singkatnya malam harinya dalam pembaringan di tempat tidur saya merasa panas dingin di seluruh tubuh sehingga memutuskan untuk segera tidur, padahal jam baru menunjukkan setengah sembilan malam. Dalam tidur tersebut saya bermimpi didatangi 2 orang kakek-kakek mengenakan pakaian serba putih seperti para ulama jama dulu. 

Dalam mimpi tersebut beliau berkata sesuatu yang saya sendiri tidak tahu maksudnya. Mereka berdua menanyakan dimana keberadaan rumahnya, sementara saya sendiri tidak mengenal siapa kedua sosok tersebut.

Terbangun sekitar pukul 2 dini hari keadaan tubuh saya semakin terasa parah, panas dingin terasa di sekujur tubuh sehingga membuat saya menggigil. Setelah membangunkan istri dia membuatkan secangkir teh hangat serta memberikan obat penurun panas yang diambilnya dari laci penyimpanan obat.

Namun rupanya obat penurun panas tersebut tidak banyak memberikan efek terhadap kesehatan saja, bahkan hingga 3 hari saya hanya tidur sebentar karena setiap kali tertidur selalu bermimpi didatangi 2 sosok kakek mengejar-ngejar dan menanyakan rumahnya. Berobat ke puskesmas menjadi pilihan terakhir karena saya merasa sangat tersiksa dengan sakit tersebut. Dengan diantar istri saya akhirnya sampai juga di Puskesmas dan menunggu antrian.

Eh lha kok di tempat duduk saya bertemu dengan Mas Sumadi yang juga mengalami kejadian serupa dengan saya. Bukan hanya sakitnya saja yang dia alami melainkan juga bermimpi didatangi orang yang tidak dikenal. Bahkan dalam mimpi tersebut Mas Sumardi sedikit mendapat ancaman sehingga membuatnya mengigau.

Mulai itu saya merasa ada yang tidak beres dengan apa yang kami perbuat kemarin. Setelah berbincang-bincang sambil menunggu antrian pemeriksaan akhirnya kami sepakat untuk menemui Mbah Suhadi selaku sesepuh di dusun kami. Setelah selesai berobat kamipun bergegas menuju rumah Mbah Suhardi yang kebetulan beliau juga sedang di rumah.

Pada Mbah Suhardi saya dan Mas Sumadi menceritakan tindakan kami kemarin memindah batu nisan dari pemakaman ke pinggir parit. Setelah mendengarkan cerita kami Mbah Suhardi kemudian memberikan cerita jika memindah batu nisan tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Bahkan beluau juga berpendapat jika seluruh warga dusun sepakat untuk memindahkan batu nisan mestinya mengadakan dahulu upacara sebagai penolak bala agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Kami pikir memindahkan batu nisan merupakan hal yang biasa-biasa saja namun setelah mendengarkan penurutan Mbah Suhardi saya semakin ketakutan jika hal buruk terjadi pada diri saya. Akhirnya Mbah Suhadi memberikan saran pada kami untuk meletakkan kembali batu nisan yang tadinya kami pindahkan ke dalam area pemakaman lagi sebagaimana posisi dan lokasi sebelumnya.

Dibantu dengan warga lain akhirnya Saya dan Mas Sumardi memindahkan kembali batu nisan ke tempat sebelumnya. Anehnya ketika sampai di rumah saya merasa tubuh saya sangat sehat dan tidak lagi sakit. “Wah apa memang benar sakit yang saya alami kemarin merupakan ulah dari penghuni kubur” gumam saya dalam hati.

Demikian cerita gara-gara memindah batu nisan kuburan yang saya alami. Terlepas dari benar tidaknya sakit dan mimpi mistis saya dengan memindah batu nisan hingga saat ini saya dan Mas Sumadi tidak lagi berani memindahkan batu nisan.