Jumat, 02 Maret 2018

Ilmuwan Ungkap Misteri Gerbang Neraka Era Romawi di Turki

Tags


TEMPO.CO, Jakarta - Ilmuwan Jerman berhasil memecahkan misteri Gerbang Neraka era Romawi di Turki, yang melegenda sekitar 2000 tahun lalu. Situs Judi Online

Sekitar 20 abad lalu, masyarakat saat itu dihebohkan dengan sebuah gua dekat kuil Yunani-Romawi kecil di Turki. Tepat di luar gerbang batu, ada sebuah gua yang diselimuti kabut tebal, sebuah kekuatan aneh bekerja dalam kegelapan. Banteng ataupun hewan kurban lain, yang dibawa masuk ke dalam, tiba-tiba akan roboh dan binasa. Namun imam yang menemaninya tetap bisa keluar gua tanpa cedera.

Tempat itu terletak di sebuah kota bernama Hierapolis di Frigia kuno, sekarang Turki, dan digunakan untuk pengorbanan binatang dari sapi jantan. Hewan akan dibawa melalui Gerbang Plutonium atau Pluto untuk persembahan bagi para dewa di dunia bawah, yang dipersembahkan oleh para imam yang telah disunat.

Seperti dilansir situs Time dan Science Alert, saat para pendeta memimpin sapi jantan ke arena, orang bisa duduk di kursi di arena dan melihat saat asap yang keluar dari gerbang membawa hewan itu ke kematiannya.

Masyarakat pada era itu percaya gua itu jalan menuju kediaman Pluto, yaitu dewa yang diyakini menguasai alam bawah tanah.

Namun penelitian baru yang diterbitkan pada 12 Februari di jurnal Archaeological and Anthropological Sciences menunjukkan penjelasan yang jauh lebih bersahaja terhadap misteri gua: karbon dioksida berbahaya.

Dengan menggunakan alat analisa gas portabel, ahli biologi gunung api Hardy Pfanz dari Universitas Duisburg-Essen di Jerman, memimpin sebuah tim ilmuwan untuk menemukan ada uap yang dipancarkan dari mulut gua melalui celah yang mengalir jauh di bawah tanah. Uap ini mengandung 4 -- 53 persen karbon dioksida vulkanik. Semakin dalam gua maka tingkat racun semakin tinggi.

Dan, temuan ilmjuwan menjelaskan hanya hewan yang tewas sedangkan manusia tidak karena hidung hewan menghadap ke tanah sedangkan manusia tidak. Sehingga hewan lebih mungkin menghirup racun.

Meski baru ditemukan kembali pada tahun 2013 di dekat kota Pamukkale, yang terkenal dengan teras air mancur travertine yang surealis oleh Unesco, eksistensi gua telah dikenal sejak zaman dahulu oleh kalangan dari Hierapolis.

Dikenal sebagai "Plutonium", hal itu dianggap sebagai gerbang ke dunia bawah dan cara untuk bersatu dengan dewa dengan menawarkan pengorbanan hewan. Penonton akan menyaksikan keajaiban dari arena di dekatnya.

Sebuah deskripsi yang ditulis oleh ahli geografi Yunani Strabo, yang hidup dari 63 SM sampai 24 M, menyebutkan ruangan itu penuh dengan uap berkabut dan padat sehingga orang hampir tidak dapat melihat tanah ... sapi jantan yang dibawa ke dalamnya jatuh dan mati.

"Ruang ini penuh dengan uap yang berkabut dan lebat sehingga orang hampir dapat melihat tanah, binatang yang masuk ke dalam mati seketika, saya melemparkan burung gereja dan mereka segera menarik napas terakhir dan jatuh," tulis Strabo.

Tapi meski para imam masuk dan meninggalkan gua tanpa cedera, Strabo mencatat bahwa mereka akan menahan napas sebanyak yang mereka bisa dan menunjukkan indikasi semacam serangan yang mencekik.

Dua ribu tahun kemudian, pengunjung masih harus waspada terhadap gerbang; Selama penggalian 2013, arkeolog menyaksikan beberapa burung langsung mati setelah terbang terlalu dekat.

Namun kuil gua itu ditutup sejak 2015 setelah meningkatnya ketegangan antara Turki dengan Rusia, yang baru bangkit kembali tahun lalu.

Selanjutnya terhadang oleh adanya ketegangan antara pemerintah AS dan Turki. Keduanya saling menolak layanan visa di tengah perseteruan penangkapan pegawai Konsulat AS di Istanbul, Turki. Layanan kemudian dilanjutkan, namun pemerintah AS mendesak warganya pada bulan Januari untuk menunda rencana perjalanan ke wilayah itu, dengan alasan masalah terorisme. BANDAR POKER ONLINE


BandarQ Domino 99 Domino QQ Poker Online Terbaik Dan Terpercaya