Minggu, 21 Mei 2017

5 Sungai di Indonesia yang Pernah Dibanjiri Darah dan Mayat Mengapung

Tags


Sungai menjadi pusat segala aktivitas dari manusia. Entah itu mencari air, mandi, bekerja, dan lain sebagainya. Namun dalam praktiknya, sungai juga difungsikan sebagai bagian dari budaya dan adat setempat. Seperti misalnya, ada begitu banyak kegiatan adat yang dilakukan di sungai, termasuk melarung sajen atau bahkan abu dari orang yang sudah meninggal.

Tapi ada kalanya sungai juga dijadikan “kuburan”, tempat orang-orang membuang mayat. Alhasil, sungai yang biasanya tampak indah dan sejuk berubah menjadi seram dan berbau tak sedap. Hal tersebut rupanya terjadi pada beberapa sungai di Indonesia, yang kebetulan menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan paling berdarah di negeri ini. Penasaran? Yuk simak ulasan lengkapnya, seperti yang dilansir oleh boombastis.com.

1. Sungai Bengawan Solo

Sungai Bengawan Solo pernah menjadi saksi bisu dari tragedi kemanusiaan paling berdarah di Indonesia. Warga yang biasanya melakukan aktivitas di sekitar sungai, seperti mencuci, mandi, mencari ikan, bahkan harus membatalkan niat mereka untuk berlayar di sungai tersebut.

Salah satu spot yang sering dijadikan tempat jagal para korban tragedi 1965 adalah Jembatan Bacem. Jembatan ini dibangun tepat di atas aliran Bengawan Solo. Setiap malam, para tentara menembaki tahanan terduga PKI di Jembatan Bacem, dan kemudian mayatnya dihanyutkan begitu saja di aliran Sungai Bengawan Solo. Bandar Sakong Online

Akibat tindakan itu, warga yang tinggal di sekitar sungai enggan mengambil air apalagi berlayar di sungai tersebut selama beberapa waktu. Barulah saat air sungai mulai kembali jernih alias tidak ternoda darah, mereka kembali melakukan aktivitas di sungai itu. Sebab, tak jarang para nelayan yang rutin menangkap ikan di sana, mendapati ada jari atau bagian tubuh manusia lainnya di dalam perut ikan.

2. Sungai Brantas

Sungai Brantas juga menjadi salah satu “kuburan terapung” ketika tragedi 1965 pecah di Indonesia. Sungai yang memiliki mata air di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, ini merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa, setelah Bengawan Solo. Bagi penduduk Jawa Timur, sungai ini memiliki peran sangat penting bagi penyokong laju perekonomian mereka, terutama untuk para petani. Sebab, air dari sungai ini sering digunakan untuk mengaliri sawah-sawah mereka.

Namun ketika pembantaian massal 1965 pecah di negeri ini, tak ada satu pun warga yang berani mendekati Sungai Brantas. Hal ini karena mayat-mayat korban pembantaian biasanya dihanyutkan di sungai tersebut. Akibatnya, air sungai berubah merah dan baunya jadi anyir karena darah.

Para warga juga tak mau makan ikan dari Sungai Brantas karena kabarnya sering ditemukan jari atau bagian tubuh manusia lainnya di tubuh ikan-ikan yang ada di sana. Menurut pengakuan warga yang menjadi saksi, sebagian besar mayat yang dibuang ke Sungai Brantas sudah tak berkepala. Entah di mana kepala-kelapa itu dikubur. Dan jumlah mayat yang dihanyutkan di sungai tersebut juga tak diketahui berapa, karena kebanyakan warga memilih untuk tidak mendekat.

3. Sungai Poso

Bentrokan di Poso menjadi salah satu peristiwa kelam yang pernah terjadi di negeri ini. Bagaimana konflik antar agama bisa membuat puluhan atau bahkan ratusan nyawa direnggut secara paksa. Anak-anak dan wanita yang tak bersalah harus mati setelah disiksa. Bentrokan di Poso sebetulnya dibagi dalam tiga fase yakni Kerusuhan Poso I (25-29 Desember 1998), Poso II (17-21 April 2000), dan Poso III (16 Mei – 15 Juni 2000).

Karena kerusuhan Poso mencakup serangkaian kasus, salah satu yang menjadi sorotan tajam ketika itu adalah penyerangan dan pembantaian yang terjadi di pondok pesantren Walisongo. Mayat-mayat korban pembantaian kemudian dihanyutkan di Sungai Poso. Menurut pengakuan warga yang tinggal di pinggiran sungai, dari pagi sampai siang terhitung ada 70-an mayat yang hanyut terbawa arus. Dan jumlahnya terus bertambah hingga petang menjelang.

Mereka juga menemukan mayat orang tua, anak-anak, dan wanita. Biasanya, mayat wanita dan anak-anak diikat jadi satu, atau kadang-kadang dimasukkan dalam karung beras. Sebagian besar dari mayat-mayat tersebut sudah tak berbentuk karena sebelumnya sudah mendapat penyiksaan.

4. Sungai Mentaya

Gesekan yang terjadi antara etnis Madura dan Dayak di Sampit telah memicu pertumpahan darah. Belum ada angka pasti berapa yang meninggal dalam peristiwa itu, namun beberapa menyebut kalau angkanya bisa mencapai ratusan atau bahkan ribuan nyawa.

Meski bentrokan antar etnis ini dipicu oleh serangkaian peristiwa, salah satu yang menjadi penyebab bentrokan ini adalah perkelahian siswa SMK di Baamang. Perkelahian itu melibatkan anak warga Dayak serta Madura. Perseteruan antar siswa itu berubah menjadi perselisihan antar keluarga, etnis, agama, sampai akhirnya pecah perang.

Aksi saling balas antar suku Madura dan Dayak membuat Sampit membara. Suku Dayak yang telah lama dikenal dengan kekuatan spiritualnya yang kuat, berhasil menguasai Sampit dan membantai orang-orang Madura. Mayat-mayat tanpa kepala berjatuhan dan banyak di antaranya dibuang di aliran sungai Mentaya. Air sungai pun berubah merah dan mengeluarkan bau anyir dari darah.

5. Sungai Ular

Selain Sungai Bengawan Solo dan Brantas, ada satu sungai lagi di Indonesia yang dijadikan tempat penjagalan terduga PKI. Namanya Sungai Ular. Sungai ini terletak di Desa Citaman Jernih, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai. Keindahan sungai ini sering menarik wisatawan untuk sekadar mampir dan mengambil gambar di sekitarnya. Capsa Susun Online

Namun, siapa sangka kalau dulunya sungai ini pernah berubah “merah” karena mayat-mayat korban pembantaian. Baru-baru ini, Sungai Ular memang muncul sebagai salah satu latar dari film terkenal The Act of Killing (Jagal), karya sutradara Joshua Oppenheimer. Di film tersebut, penonton diberi gambaran tentang bagaimana dulunya sungai itu dijadikan tempat penjagalan dan pembuangan mayat dari para terduga PKI.